
Sahabat......
Pernahkah sejenak kita pikir dan rasakan, apa yang semua kita lakukan hanya untuk Allah SWT, tapi coba kita gali lebih dalam lagi..apakah memang sdh demikian ?
Kita mengerjakan IBADAH( sholat ) agar banyak rejeki, kita menjalankan PUASA supaya lulus ujian, supaya mendapatkan kesaktian, dapat jodoh dll, dan kita BERDOA setiap supaya kita diberi kekayaan yang lebih banyak, kesehatan , ketenaran..dan lain lain
Dan karena kita sudah menjalankan segala perintah Allah, sudah selayaknya kita mendapatkan apa yang kita minta ( DOA ) kita dikabulkanNya, seolah Allah adalah MITRA DAGANG kita..
Mari kita RENUNGKAN Puisi dari WS Rendra dibawah ini :
Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan
Bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya
Tetapi, mengapa aku tidak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yg bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali olehNya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja yang melukiskan bahwa itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yg cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta, lebih banyak mobil, lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan.
Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
"aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku" dan
menolak keputusan Nya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"
Dari puisi diatas, kita dapat berkaca ,apakah kita masih di level tersebut...??
Ada sahabat yang mengatakan, hal tersersebut tidaklah salah total , hanya dia bilang itu
tingkat ibadah yang paling rendah..
Kalau begitu tentunya ada level level dalam ibadah dong,
Pertanyaan saya kepada dia, apa sih level tertinggi dalam ibadah ? dan bagaimana cara mencapainya ? dan bagaimana kita tahu , kita sudah mencapai level tersebut..?
Jawaban dari sahabat saya , belum memuaskan saya... saya berharap dari para sahabat bisa share mengenai pertanyaan pertanyaan saya diatas..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar